Pagi itu, sebelum perjalanan ke tempat kerja, saya mampir ke salah satu toko buku di daerah Soekarno Hatta. Itulah kegiatan yang akan saya lakukan ketika merasa penat dengan rutinitas pekerjaan. Toko buku menjadi obat tanpa resep dokter yang manjur. Meskipun harus melalui rute yang berbeda, tentu tetap saya datangi.

Saat melewati rak 'buku terbaru', sepasang mata langsung tertuju pada salah satu buku bersampul biru langit dengan gambar awan putih. Pasti sobat dumay mengira saya tertarik dengan sampulnya hehe. Bukan. Yang membuatnya menarik karena nama penulisnya. Dee Lestari.

Siapa yang tidak kenal dengan salah satu penulis terbaik Indonesia ini?

Singkat cerita, saya mengenal Dee Lestari karena sebuah rasa heran. Tahukah sobat dumay jika 'Perahu Kertas' dan 'Filosofi Kopi' yang telah laris manis itu ditulis beliau sewaktu kuliah dan baru diterbitkan sepuluh tahun kemudian? Sungguh heran dibuatnya! Namun begitulah fiksi memainkan perannya, tidak lekang oleh zaman.

Rantai Tak Putus menjadi buku kedua karya Dee Lestari yang saya baca setelah Madre. Hingga blog post ini dibuat, saya masih berusaha menamatkan beberapa karya beliau lainnya. Terlambat memang, tapi tetap menyenangkan. Karena ini bukanlah berita yang harus mengikuti situasi terkini. Sungguh nyaman dibaca kapan saja.

Melalui Rantai Tak Putus, saya merasakan sensasi yang berbeda. Karya non-fiksi yang ditulis dengan gaya fiksi! Coba saja baca halaman berikut ini. Batasan antara non-fiksi dan fiksi ternyata bisa dilebur dengan sangat cantik.






Bahkan Pak Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia, mengulas bahwa,

"Buku ini sanggup memantik semangat ... untuk berani memulai usaha, gigih, dan semakin kreatif."


Semua dapat tercipta karena kemampuan Dee Lestari dalam menceritakan pengalaman hidup pejuang UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) melalui kata demi kata yang mengalir. Tidak hanya rangkuman tulisan dari penggambaran data yang nyata. Semua informasi pun didapat beliau melalui riset berupa kunjungan langsung satu persatu ke setiap pelaku UMKM.

Hingga lahirlah sebelas kisah yang menggugah ini.





Meskipun pelaku UMKM yang diceritakan hanyalah sebagian kecil dari pemuda-pemudi binaan Yayasan Darma Bakti Astra (YDBA) di bidang manufaktur, perbengkelan, dan holtikultura. Namun tidak melemahkan inti pesan semangat yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Tidak heran jika buku ini padat akan ilmu yang ingin diteruskan agar tidak terputus dan menjadi warisan yang langgeng. 





Suka duka yang dirasakan pelaku UMKM juga dijabarkan dengan baik. Ketika membacanya saya seolah terhanyut ikut merasakan betapa sulitnya keadaan mereka saat awal merintis. Pun saat keberhasilan diceritakan, rasa senang muncul pula seketika. Yang paling istimewa, Dee Lestari mampu menghipnotis saya untuk membeli salah satu produk yang diulas di buku ini : Abon Cabai Hiyung.

Berbekal instagram, saya coba mencari dengan kata kunci #aboncabaihiyung. Ternyata ada! Segera saya pesan dua botol abon cabai original dan dua botol sambal rasa bawang dan original. Jangan ditanya soal rasa, benar-benar terpedas di Indonesia! Sesuai tagline-nya.





Selain tertarik dengan rasa hasil produknya, saya juga sangat suka dengan kisah petani Cabai Hiyung. Bahkan ada satu kalimat yang mampu membuat api semangat sesama pelaku UMKM seperti saya ini seketika semakin berkobar.


"Semangat kami adalah maju bersama."






Tanpa disadari, sebagian pelaku UMKM sebenarnya sudah menjadi Sociopreneur. Seseorang yang menjalankan usaha dengan fokus menciptakan dampak sosial bagi masyarakat. Fakta mengejutkan lainnya adalah hidup kita dikelilingi dan digerakkan oleh UMKM. Data menunjukkan bahwa 99,9% unit usaha di Indonesia adalah UMKM. Namun persentase tinggi tersebut tidak berbanding lurus dengan pendapatan usaha yang dihasilkan.







Lahirnya buku ini harusnya menjadi cambuk bagi anak muda dan juga pejuang UMKM lainnya. Tidak mudah memang keluar dari zona nyaman gaji bulanan pegawai yang telah pasti menuju dunia wirausaha yang penuh hal tidak terduga. Tidak ada garansi keberhasilan pula di dalamnya. Namun jangan pernah lupa jika kita dapat meminta kepada Allah untuk dimudahkan dalam segala urusan.

Hal lainnya yang membuat saya tertarik usai membaca Rantai Tak Putus adalah kepiawaian Dee Lestari menceritakan sosok demi sosok dalam balutan tulisan biografi yang sarat pesan kehidupan. Setiap kisah memang layak untuk diceritakan, tanpa perlu ada kualifikasi khusus untuk lolos atau tidak lolos. Semua hal tersebut Dee Lestari hadirkan di Rantai Tak Putus.

Tidak heran, jika saya merekomendasikan sobat dumay untuk segera membaca buku ini. Terlebih bagi pelaku UMKM maupun generasi muda. Karena buku ini memang semenarik itu!

By the way, saya jadi tertantang untuk belajar menulis sekumpulan biografi seperti tulisan Dee Lestari di Rantai Tak Putus. Semoga segera terlaksana.



***

Judul : Rantai Tak Putus
Penulis : Dee Lestari
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2020