Thank to Pixabay


Ketika kita terlahir Islam.
Jangan jadikan itu sebatas takdir.


Ketika kita memiliki KTP yang menerangkan kita beragama Islam.
Jangan jadikan itu sebatas identitas.

Seiring berjalannya waktu,
gelas kosong kita semakin terisi.

Adakah pilihan dihidup kita yang lebih mengutamakan logika
daripada kebenaran yang kita yakini sejak awal sebagai
takdir dan identitas kita itu?

Jika Al-Qur'an sudah bercerita kepada kita tentang kebenaran
akan adanya perintah berjilbab.

Mengapa pikiran kita masih dikalahkan pembenaran perasaan?
Perasaan yang sering melemahkan iman.
Bukankah pikiran kita adalah salah satu nikmat dari-Nya?
Haruskah digunakan untuk menolak kebenaran perintah-Nya?

Apa ilmu kita lebih tinggi dari-Nya sampai-sampai
kebenaran yang nyata masih saja dipandang sebelah mata?

Sungguh kita hanya hamba yang tidak berdaya tanpa-Nya.

Teruntuk saudariku sesama muslimah.
Aku masih belum berani untuk menyampaikan hal ini
-yang menurutku sensitif- secara tatap muka.

Aku sadar kalimat ajakanku tidak selembut
kalimat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
ketika mengajak umat Islam kejalan kebaikan.

Cukup percaya saja jika yang kusampaikan ini tulus.
Saudariku, mari berjilbab.